Halo!

Kekosongan yang membawa kamu kemari. Sayang, disini tidak ada apa-apa selain isi hati dan makianku akan kehidupan dan dunia. Tidak berniat menyuguhkannya dengan kata-kata indah, aku hanya ingin telanjang disini. Suka tidak suka terserah aku saja sebagai pemilik. Eh, tapi! Selamat menikmati ya? Terima kasih banyak atas waktumu.

Salam hangat,

Mentari

Iklan

Selamat?

Hidup itu singkat, dan memang benar adanya. Sekarang saja sudah memasuki bulan September, hampir berada di penghujung tahun 2018. Omong-omong soal bulan, besok ayahku ulang tahun yang ke-39. Cukup muda ya? Mengingat beberapa bulan lalu aku memasuki tahun ke 19 hidup. Aneh karena sosoknya dalam hidupku memudar. Bukan, bukan mati. Hanya, entahlah. Sejak awal aku memang tidak terlalu peduli pada perceraian kedua orang tuaku, toh berpisah dan memilih jalan hidup adalah hak mereka. Aku juga tidak suka jika mereka memaksakan bersama karena alasan ‘demi anak’.

Yang Ingin Aku Sampaikan di Malam Minggu

Ada bagian dari diriku yang ikut tergiring oleh kepergiannya. Sama seperti patah hati pada umumnya, sakit yang meninggalkan jejak berupa lubang menganga dalam hati. Akan sembuh sendirinya karena waktu dan orang-orang baru, namun tetap berbekas. Persoalan membiasakan diri, aku sudah dari jauh hari berusaha bangkit dan berhasil. Ingatan ketika raganya masih dengan mudah kugapai perlahan memudar. Tersisa rasa cemburu pada mereka yang akhirnya dipilih dia untuk menjadi tempat bernaung, juga rindu, bukan pada sosok namun masa laluku. Kembali bukan lagi menjadi harapan. Cukup berjanji untuk senantiasa bahagia maka aku bayar dengan perasaan rela.

Foto Keluarga Berujung Promosi

Foto ini diambil tahun lalu, masih sekitar hari lebaran. Tidak ada yang aneh, hanya, seberharga itu ketika aku melihatnya kembali hari ini. Waktu itu masih ada nenek, dah oh semua cucu berkumpul tanpa ada yang absen! Karena kesibukan masing-masing, sekarang sudah cukup sulit mewujudkannya. Sama seperti kalian, yang berpikir ‘rasanya baru kemarin kami anjang-anjangan,pundung-pundungan, berjuang di sekolah dasar, dan dengan lantang menyuarakan cita-cita.’

Munafik

Dia bertanya, “apa yang kamu inginkan?”

Aku ingin mati. Aku ingin mati menyayat nadi dan kehabisan darah. Aku ingin mati sesak nafas dalam jeratan tali. Aku ingin mati terjatuh dari gedung tinggi. Aku ingin mati karena racun sianida. Aku ingin mati tertabrak mobil ketika menyebrang. Aku ingin mati terhantam kereta yang melaju kilat. Aku ingin mati dengan dada tertembus peluru. Aku ingin mati terhunus benda tajam. Aku ingin mati sebagai santapan hewan liar di tengah hutan. Aku ingin mati dilahap ikan ganas di kedalaman laut.

Aku ingin mati.

Esok pagi, malam ini, segera.

Aku ingin mati.

dan aku menjawab,

“Tidak ada.”

Pencitraan Dulu, Peduli Belakangan

Kepedulian saat ini hanya sebatas keperluan instagram agar terlihat memiliki pemikiran terbuka, kritis, dan keren. Percuma kalian membahas dan meraung membela HAM, kalau di dunia nyata sikap dan tingkah kalian, kita, berbanding terbalik. Kalau masih merasa paling benar, sudah tidak usah banyak bicara dan komentar. Berkaca agar sadar dan perbaiki diri. Berhenti jadi manusia menggelikan. Termasuk aku. Makannya, sama-sama intropeksi. Yuk?

Bagus sih, tapi sayang, dunia butuh lebih dari sekedar simpati. Percuma jadi masyarakat, termasuk para orang tua dan khususnya mahasiswa yang hobi berteriak meminta keadilan sana-sini, (apalagi hanya modal repost) tapi masih memelihara pola pikir, “oh aing kan lebih lama dan berpengalaman,” “kok nggak ngehormatin sih?” entahlah mungkin aku belum terlalu paham karena belum mengalami. Tapi, setidaknya tulisan ini sebagai pengingat agar aku menjujung tinggi rasa menghargai ketimbang gila hormat. Karena, yang aku percaya hormat itu diberi pada orang yang pantas, bukan diminta secara paksa.

Ada nggak sih alasan yang lebih tinggi dari hanya sekedar bawa-bawa ‘aku ini kan A, B, C, D’ karena itu jujur terlalu rendah, hina, kampungan, dan ketinggalan zaman. Aduh maaf aku emosi sendiri. Habis mau marah. Hal se-gapenting itu jadi mengganggu kehidupanku sehari-hari. Tolong, maaf, makasih, kayanya nggak berlaku ya untuk mereka yang kalian anggap kurang berhak dan rendah?

Nggak usah ngeliat betapa menderitanya masa muda kalian dulu lah. Jadi orang baik mah nggak salah kan? Aku juga masih belajar sih untuk nggak ngeduluin gengsi karena dipikir-pikir banyak ngerugiin orang. Semoga bermanfaat. Maaf kalau ada salah-salah kata ok? Ini berdasarkan pengalamanku saja jadi trims and byebye.