Halo!

Siapapun kamu. Terimakasih telah sudi mampir kemari. Tidak banyak yang bisa aku bagi, sebagian besar hasil dari bisingnya kepalaku, juga berbagai perasaan yang mengganggu. Jadi ya, selamat menelanjangi aku! Semoga berkenan!

Salam hangat,

Mentari.

Iklan

Manusia: Gila

Dunia ini gila.

Perlahan merubah bayi-bayi suci menjadi seorang dewasa yang tidak tahu diri.

Melupakan citra sebagai manusia yang saling menghargai dan mengasihi.

Oh sebentar, sejak kapan manusia identik dengan kedua hal tersebut?

Wah, wah, memang egois. Merasa sok sempurna dan gila kuasa pula.

Orang gencar berkata ‘bersyukurlah menjadi manusia, makhluk yang paling sempurna!’ Hah? apa alam semesta tidak tertawa mengejek? Yaampun, aku malu sekali!

Bahkan di kalimat pertama saja aku masih menyalahkan dunia. Terbukti aku ini memang sangat manusia!

Poster-poster dijalan bertebaran menyerukan kedamaian, keseimbangan alam, kemanusiaan. Hey, ya! Mandor berteriak, buat selebaran yang banyak. Tebang pohonnya!

Manusia gila. Apa yang utama? Politik! Uang! Agama! Pekerjaan! Cinta! Semua bercampur, semua merasa paling benar. Pokoknya, dunia ini milik kami, tanah air kami, hak kami!

Lalu apa solusinya? Sudahlah, buka bajumu, robohkan gedung-gedung itu, lupakan biaya sekolah dan listrik. Mari sibuk menyembah batu dan menghindari singa.

Kenapa? Padahal manusia juga bagian dari alam semesta? Memang! Tau apa peran kita disini? Ya, virus! Menggerogoti dan merugikan. Tunggu sajalah, sampai tubuh ini menyadari kehadiran yang tidak diinginkan dan melakukan pembasmian. Hahahahahahahaha?

Ya sudah, aku jadi ingin makan ayam goreng.

 

Kehampaan Dini

Bagaimana cara mengatasi diri yang mendadak kehilangan motivasi maupun ambisi? Hah… beban sekali ketika beberapa orang masih menaruh harapan padaku, ketika kenyataannya aku tidak mau apa-apa atau menjadi siapa-siapa. Bagaimana jika aku bilang, ingin menikmati sisa waktu hidup saja? Membiarkan diri hanyut bersama arus, yang entah akan membawaku kemana. Picik sekali bukan?

Saat ini sibuk mengejar gelar sarjana, yang bahkan, ku jalani dengan setengah hati. Apa memang semua orang mengalami fase seperti ini? Menjadi remaja yang baru bertabrakan dengan realita? Lalu aku harus bagaimana? Orang-orang berkata harus sukses sukses sukses! Sukses itu yang seperti apa? Berhasil menggapai cita-cita? Tidak punya, aku. Oh mungkin ada, yang membuatku tersenyum damai ketika membayangkannya namun detik setelahnya meringis, menyadari bahwa hal sesederhana itu saja rasanya terlalu sulit digapai; Bangun di pagi hari, menghirup udara asin khas pantai, membiarkan rambut berantakan di terpa angin kencang sembari memandang ombak dari kejauhan. Ditambah kehadiran seorang suami seksi juga dua orang anak sepasang laki-laki dan perempuan. Hah luar biasa. Tidak perlu ke surga, aku sudah bahagia.

Katakan aku naif, karena faktor utama bahagia juga adalah uang, kan? Bayangkan jika hal diatas berhasil kugapai, namun atap rumah seringkali bocor, tikus berhasil masuk dan mendiami sela-sela dalam rumah, belum lagi anak yang merengek minta tagihan sekolah, atau penghasilan suami yang hanya bisa menutupi biaya listrik namun ingin makan enak setiap hari. Mungkin aku akan menyesal dan berkata, ‘tau begini aku kuliah dengan benar dan fokus bekerja agar jadi seorang wanita kaya yang bisa hidup sendiri di apartement mewah!’ Mengesampingkan tuntutan kekuarga, kerabat, juga tetangga yang bergossip ‘kerja terus jadi ga nikah-nikah!’ Lalu diumur 50 tahun kesepian dan iri melihat adik yang sudah berkeluarga dan dikelilingi anak cucu. Seketika berharap bisa kembali ke masa muda dan menikah dengan siapa saja, yang penting berkeluarga.

Coba pikirkan betapa kompleksnya hidup sebagai manusia yang tidak pernah puas, selalu menuntut kesempurnaan yang semu. Aku hanya tidak mau kecewa dan makin membenci diri sendiri di masa depan. Saat ini benar-benar mengharapkan hidup yang tenang dan senang, atau setidaknya, menjadi seorang yang kelak bisa berdamai dengan dunia dan diri sendiri.

Tanya Belia

Iya, iya, sebelum tercipta meri-meriku yang kemarin. Sebenarnya aku membuat ini lebih dulu. Sudahlah, post saja, ya? Hhh. Selamat membaca?

***

Mama,

Mengapa tak ceritakan lebih dulu?
Mungkin karena kau anggap tabu?

Jerumus waktu nikmat bercumbu
Mengerling insan saling merayu
Surga dicipta sentuhan semu
Menuntun ragu jiwa yang lugu

Mengapa tak ceritakan lebih dulu? Mungkin karena kau terlalu ragu?

Ucap terlontar begitu kelu
Lihat kutimang jabang nan lucu
Tertegun sanak memandang pilu
Berbisik datang masa kelabu

Mengapa tak ceritakan lebih dulu?
Mungkin karena kau tidaklah tau?

Bahwa tak hanya sebongkah susu
Sumber utama seorang ibu
Berselimut sesal harap berilmu
Gusar menanti sesosok guru

Mengapa tak ceritakan lebih dulu?
Mungkin karena kau terlalu malu?

Berlari-lari silih bertamu
Sadar rintangan nilai seribu
‘Tuan bolehku semir sepatu?
Nona ada yang bisa ku bantu?’

Anak Manusia, Cinta, dan Selaput Dara

Mendadak aku ingin membahas sebuah fenomena yang tak jarang kita temui di masyarakat; hamil diluar nikah. Hah tapi rasanya kalimat itu juga tidak tepat. Bagaimana ya? Aku tidak peduli jika seseorang ‘kebablasan’ dan mengandung sebelum adanya ikatan pernikahan. Apalagi jika setelahnya mereka mau bertanggung jawab dan hidup berbahagia. Tapi coba lihat pasangan yang minim pengetahuan seksual, anak berseragam sekolah yang mengira bahwa mereka sedang benar-benar jatuh cinta, saling percaya, selalu menerka, dan pada akhirnya terlena. Dengan kebiasaannya yang bertukar password media sosial, saling mencantumkan nama pasangan masing-masing agar seluruh dunia tau bahwa, ‘hey gadis/pria ini adalah milikku!’

Dik tolong mengerti kemungkinan besar kamu itu salah. Kemungkinan besar hubungan yang kamu anggap akan berlangsung selamanya itu berakhir sesepele karena, ‘ketiduran ketika chat,’ atau ‘lupa ngabarin.’ Tidak sedikit yang bertengkar hebat hanya karena pasangannya terlihat berbincang dengan lawan jenis lain. Duh, cemburu itu wajar kok, tapi kalau nyatanya dia hanya bertanya mengenai tugas? Lagipula, kita tidak bisa menentukan perasaan orang, tidak bisa seenaknya melarang oranglain mengagumi seseorang yang kita sebut ‘pacar.’ Bukannya malah bagus ya? Jika kamu berpacaran dengan orang yang dikagumi? Membuktikan bahwa kepribadiannya memang menyenangkan di mata oranglain? Mungkin. Hahhh. Bagaimana ya mengatakan pada anak diluar sana bahwa hubungan yang sedang mereka jalani tidak seserius itu:(

Sedih, diumur remaja yang serba ingin tahu malah terancam menghentikan semua pendidikan formal yang sedang ia jalani karena ‘nggak tahan.’ Terlalu malas dan gengsi membeli alat kontrasepsi! Ahhhh, sesulit itu ya mengingat bahwa sperma yang bertemu sel telur itu bisa menjadi bayi?!?!?! Ketika bercumbu lebih menarik ketimbang membaca buku. Tidak salah, tapi jika suatu hari kamu sadar sudah melewati bulan kedua tidak menstruasi, lalu gelisah dan membeli testpack yang ternyata menunjukan dua garis, setelah itu menangis karena terlalu takut bicara pada keluarga, kamu akan paham. Hey, jangan biarkan potensi yang ada dalam dirimu terhambat atau bahkan berakhir karena hal setidakpenting, kebelet nafsu.

Mikir tidak sih, kalau menjadi orangtua itu penuh tanggung jawab. Bayi itu tidak hanya lucu dan butuh air susu, tapi juga ilmu, kasih sayang, dan uang jajan. Kalau tidak mampu? Mau minta duit ke siapa? Orangtua lagi??? Kan, karena gabisa tahan nafsu dampaknya jadi merembet ke orang sekitar. Belum lagi jika ujung-ujungnya tidak direstui orangtua dan malah saling dijauhkan. Ini bayi mau tumbuh gimana? Diurus neneknya karena bapanya ilang dan ibunya keluyuran? Meh. Keberadaan manusia saja sudah salah, apalagi jika tidak berguna dan banyak merugikan.

Aku tidak mengatakan bahwa sex pada remaja itu dilarang. Kurasa kenikmatan itu hak semua insan lagipula selaput dara itu menurutku bukan hal yang penting. Tapi, tolong pahami, tolong lakukan ketika benar-benar siap. Tolong jangan asal memilih pasangan. Tolong pelajari berbagai dampaknya, terutama soal penyakit menular seksual. Tolong mengerti bahwa lelaki nakal itu tidak semuanya seksi. Tolong pikirkan kemungkinan pasangan kamu ini tidak sepenuhnya baik. Banyak kok, yang tertipu dan terpaksa melakukan apapun yang pasangannya mau hanya karena takut. Banyak juga perempuan yang kehilangan kepercayaan dirinya dan takut untuk menjalin hubungan lagi, mirisnya banyak juga yang berpikir dirinya sudah tidak berharga dan asal tidur dengan sembarang pria.

Untuk laki-laki diluar sana, aku harap kalian juga bukan termasuk mereka yang lebih mementingkan selaput dara ketimbang kepribadian. Bukan lelaki yang menggunakan kata ‘murahan’ dan ‘dipakai’ pada perempuan. Bukan lelaki yang sering menggoda perempuan yang lewat karena tau dia sudah tidak, maaf, perawan sebagai bahan candaan. Kelewat kampungan. Tau kata alay? Iya itu kalian. Mencerminkan keterbelakangan pola pikir. Sudahlah, intinya tolong berpikir jutaan kali dalam melakukan sesuatu. Tolong pahami bahwa cinta itu seringkali menipu. Yang terpenting, tolong jangan kebelet keren!!!!!!:(((

Sekian dan terimakasih,

Mentari.

Pelarian

Jika realita mencari, mungkin aku sudah mati

Meratapi jiwa yang perlahan hilang ditelan angan

Disusul hancurnya raga digerogoti mimpi

Lihat yang tersisa! Hanya tulang belulang tak bertuan

Aku ini didekap gelap dicumbu sepi

Membiarkan diri untuk mengabdi

Lagipula

Apa menariknya dunia nyata? Disini aku seorang putri raja

Dalam gelap ku ciptakan istana

Bunga-bunga sekalipun saling berbahasa

Sunyi kami disini berarti senandung

Ramai dalam damai

Menanti kemunculan seorang nenek tua

Hampa, tak berdaya, berbahagia

Perlahan menyatu dengan semesta

Ketika waktu itu tiba realita bertanya, katakan aku telah tiada